Antara Kemegahan Bangunan, Kehidupan Jamaah, dan Tantangan Pemberdayaan Umat
Oleh: Syamsuri, S.Pd.I*
Masjid sejak dahulu bukan sekadar tempat untuk melaksanakan shalat. Dalam sejarah Islam, masjid merupakan pusat kehidupan umat: tempat ibadah, pendidikan, dakwah, pembinaan generasi muda, musyawarah, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Namun hari ini kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting:
Apakah masjid kita sudah benar-benar menjadi pusat kehidupan umat, atau baru sebatas tempat umat melaksanakan ritual ibadah?
Pertanyaan ini penting untuk direnungkan di tengah perkembangan masyarakat yang semakin kompleks.
Banyak masjid hari ini berdiri megah. Kubahnya indah, karpetnya nyaman, pengeras suaranya bagus, bahkan fasilitasnya semakin lengkap. Tetapi di balik kemegahan tersebut, masih terdapat berbagai persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Masjid yang Ramai Saat Shalat, Tetapi Sepi dari Aktivitas Umat
Salah satu problematika yang sering kita jumpai adalah masjid ramai pada waktu-waktu shalat tertentu, terutama Maghrib, Jumat, Ramadan, dan hari-hari besar Islam.
Namun di luar waktu tersebut, aktivitas masjid terkadang sangat terbatas.
Masjid seharusnya tidak hanya hidup ketika azan berkumandang. Masjid idealnya menjadi pusat kegiatan umat sepanjang hari.
Di sana anak-anak belajar Al-Qur’an, remaja berdiskusi, kaum ibu mendapatkan pembinaan, para orang tua mendapatkan kajian, masyarakat memperoleh pelayanan sosial, dan pelaku UMKM mendapatkan ruang untuk berkembang.
Masjid yang hidup bukan hanya masjid yang banyak jamaahnya ketika shalat, tetapi masjid yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Problematika Generasi Muda
Tantangan besar lainnya adalah semakin jauhnya sebagian generasi muda dari masjid.
Di tengah derasnya arus digital, anak-anak dan remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon pintar, media sosial, permainan daring, dan berbagai konten digital.
Masalahnya bukan sekadar mereka tidak datang ke masjid.
Lebih jauh dari itu, apakah masjid sudah menyediakan ruang yang menarik, ramah, dan relevan bagi generasi muda?
Masjid perlu hadir dengan pendekatan yang lebih kreatif.
Kajian tidak harus selalu dalam format yang kaku. Masjid dapat menjadi tempat diskusi, pelatihan keterampilan, olahraga, kegiatan sosial, kewirausahaan, literasi digital, pembinaan kepemudaan, hingga pengembangan kreativitas.
Generasi muda jangan hanya dijadikan objek dakwah.
Mereka harus dilibatkan sebagai subjek dan bagian dari penggerak masjid.
Masjid dan Persoalan Sosial
Di sekitar masjid masih banyak masyarakat yang menghadapi persoalan ekonomi.
Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yang membutuhkan biaya pendidikan. Ada lansia yang hidup sendiri. Ada pelaku usaha kecil yang membutuhkan modal dan pendampingan.
Pertanyaannya:
Apakah keberadaan masjid sudah mampu menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan tersebut?
Islam mengajarkan bahwa ibadah memiliki dimensi sosial yang sangat kuat.
Zakat, infak, sedekah dan wakaf bukan sekadar aktivitas mengumpulkan dana, tetapi instrumen untuk membangun kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pengelolaan masjid perlu mulai diarahkan pada konsep pemberdayaan umat.
Masjid dapat membangun lembaga sosial, mengembangkan koperasi jamaah, membantu UMKM, menyediakan beasiswa, membangun layanan kesehatan sederhana, membantu fakir miskin, serta mengembangkan berbagai program ekonomi produktif.
Problematika Manajemen Masjid
Tidak sedikit masjid yang memiliki semangat besar tetapi belum memiliki tata kelola yang profesional.
Pengurus bekerja secara sukarela, namun terkadang tidak disertai pembagian tugas yang jelas. Program berjalan berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan perencanaan.
Padahal masjid juga membutuhkan manajemen.
Mulai dari perencanaan program, administrasi, keuangan, sumber daya manusia, komunikasi, pelayanan jamaah, hingga evaluasi kegiatan.
Transparansi keuangan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan jamaah.
Jamaah perlu mengetahui bahwa dana yang mereka titipkan dikelola secara amanah dan memberikan manfaat yang nyata.
Masjid yang profesional bukan berarti kehilangan keikhlasan. Justru profesionalisme merupakan bagian dari amanah.
Ketika Masjid Terjebak dalam Perbedaan
Persoalan lain yang tidak boleh diabaikan adalah potensi konflik di lingkungan masjid.
Perbedaan pandangan dalam masalah keagamaan merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Namun perbedaan tersebut jangan sampai membuat masjid kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat persatuan umat.
Masjid harus menjadi rumah bersama.
Perbedaan dalam masalah furu’iyah seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling mencela, memusuhi, apalagi memecah jamaah.
Allah SWT berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Semangat persaudaraan dan ukhuwah harus menjadi fondasi pengelolaan masjid.
Masjid dan Tantangan Digital
Masjid juga menghadapi tantangan baru yang tidak pernah terjadi pada generasi sebelumnya.
Jamaah hari ini hidup dalam ekosistem digital.
Karena itu, masjid tidak cukup hanya memiliki papan pengumuman di depan masjid.
Masjid perlu memanfaatkan media sosial, website, WhatsApp, YouTube, dan berbagai platform digital untuk menyebarkan informasi dan dakwah.
Jadwal kajian, laporan kegiatan, laporan keuangan, pengumuman sosial, materi kajian, hingga program pemberdayaan dapat disampaikan secara digital.
Dengan demikian, dakwah masjid tidak berhenti di pintu masjid.
Masjid harus mampu hadir di ruang digital tempat generasi hari ini menghabiskan sebagian besar waktunya.
Masjid dan Ekonomi Umat
Masjid juga perlu melihat persoalan ekonomi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.
Tidak berarti masjid berubah menjadi pusat bisnis.
Namun masjid dapat menjadi ekosistem yang membantu jamaah menjadi lebih mandiri.
Misalnya dengan membangun:
- koperasi jamaah;
- pembinaan UMKM;
- pelatihan kewirausahaan;
- pasar murah;
- program sembako untuk keluarga dhuafa;
- pembiayaan usaha mikro;
- pelatihan keterampilan;
- jaringan pemasaran produk jamaah;
- serta program wakaf produktif.
Dengan demikian, masjid tidak hanya mengajarkan umat untuk berdoa agar kehidupannya menjadi lebih baik, tetapi juga membantu umat membangun jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Mengembalikan Fungsi Masjid
Sudah saatnya kita melihat kembali fungsi masjid sebagaimana semangat yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Masjid harus menjadi pusat:
Ibadah — Pendidikan — Dakwah — Pembinaan — Sosial — Ekonomi — Persatuan — Pemberdayaan.
Tentu setiap masjid memiliki kondisi dan kemampuan yang berbeda.
Tidak semua masjid harus memiliki program yang sama.
Yang paling penting adalah adanya keberanian untuk bertanya:
Apa persoalan masyarakat di sekitar masjid kita?
Kemudian pertanyaan berikutnya:
Apa yang bisa dilakukan masjid untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut?
Dari sinilah program masjid seharusnya lahir.
Dari Masjid untuk Umat
Masjid yang ideal bukanlah masjid yang hanya terlihat megah dari luar.
Masjid yang ideal adalah masjid yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ketika ada anak yang tidak mampu sekolah, masjid hadir.
Ketika ada keluarga yang kesulitan makan, masjid hadir.
Ketika pemuda kehilangan arah, masjid hadir.
Ketika UMKM jamaah membutuhkan pendampingan, masjid hadir.
Ketika terjadi persoalan sosial, masjid hadir.
Ketika umat membutuhkan ilmu, masjid hadir.
Dan ketika masyarakat membutuhkan tempat untuk bersatu, masjid menjadi rumah bersama.
Inilah saatnya membangun paradigma baru:
Masjid bukan hanya tempat umat datang untuk beribadah, tetapi tempat umat tumbuh, belajar, bersatu, dan berdaya.
Kemakmuran masjid tidak cukup diukur dari jumlah saldo kas atau kemegahan bangunannya.
Kemakmuran masjid harus terlihat dari kemakmuran umat yang berada di sekitarnya.
Karena pada akhirnya, masjid dibangun bukan hanya untuk memperindah lingkungan.
Masjid dibangun untuk membangun manusia.
Dan ketika manusia yang dibangun oleh masjid menjadi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, peduli dan bermanfaat bagi sesama, maka sesungguhnya masjid telah menjalankan fungsi peradabannya.
Mari menjadikan masjid sebagai pusat ibadah dan pemberdayaan umat.[]
(*Sekretaris Umum FDKM Tangerang)
Silaturahmi – Sinergi – Kolaborasi.
