23.3 C
New York
September 9, 2026
EKONOMITangerang

Harga Rumah di Tangerang Makin Mahal, Bagaimana Generasi Muda Bisa Punya Rumah?

Foto : Rumah Impian Setiap Keluarga Muda (Ilustrasi)

TANGERANG — Memiliki rumah sendiri semakin menjadi tantangan bagi generasi muda di kawasan Tangerang. Pertumbuhan kawasan perkotaan, akses transportasi, pusat bisnis, dan meningkatnya nilai tanah membuat pilihan rumah di lokasi strategis semakin mahal.

Pantauan sejumlah platform properti menunjukkan rentang harga rumah di Tangerang sangat lebar. Di kawasan premium seperti BSD dan sekitarnya, harga rumah baru dapat mencapai lebih dari Rp.1 miliar. Sementara itu, pilihan rumah yang lebih terjangkau masih tersedia di wilayah Kabupaten Tangerang, termasuk rumah subsidi.

Rumah Subsidi Jadi Salah Satu Pilihan

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih menjadi salah satu alternatif.

BP Tapera pada akhir 2025 menyebut sejumlah perumahan FLPP di Kabupaten Tangerang telah dihuni masyarakat, antara lain di kawasan Rajeg, Sepatan, Tigaraksa dan sekitarnya.

Untuk 2026, sejumlah informasi pasar properti menunjukkan rumah subsidi di wilayah Tangerang masih berada di kisaran Rp185 juta dan dapat berbeda berdasarkan ketentuan serta lokasi.

Namun, rumah murah bukan berarti otomatis mudah dibeli. Kemampuan membayar cicilan, penghasilan tetap, uang muka, biaya akad, serta lokasi rumah tetap menjadi pertimbangan penting.

Bagaimana Generasi Muda Bisa Punya Rumah?

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan generasi muda.

Pertama, jangan terpaku pada lokasi premium.
Rumah di pusat kota atau kawasan yang sudah berkembang biasanya memiliki harga lebih tinggi. Memilih kawasan penyangga Tangerang bisa menjadi alternatif selama akses transportasi dan fasilitas dasar masih memadai.

Kedua, mulai dari rumah pertama, bukan rumah impian.
Rumah pertama tidak harus besar. Yang terpenting adalah sesuai kemampuan finansial dan dapat menjadi aset awal.

Ketiga, hitung kemampuan cicilan secara realistis.
Jangan sampai cicilan rumah membuat sebagian besar pendapatan habis setiap bulan. Biaya hidup, pendidikan, kesehatan, transportasi dan kebutuhan darurat tetap harus diperhitungkan.

Keempat, manfaatkan program rumah subsidi jika memenuhi syarat.
Dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan banyak rumah komersial di kawasan perkotaan, FLPP dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang belum memiliki rumah.

Kelima, tingkatkan penghasilan sebelum mengejar rumah yang lebih mahal.
Bagi pekerja muda, peningkatan kompetensi, pekerjaan sampingan, usaha, maupun investasi produktif dapat membantu meningkatkan kemampuan membeli rumah dalam jangka panjang.

Tantangan Bukan Hanya Harga Rumah

Persoalan kepemilikan rumah generasi muda sebenarnya bukan sekadar “harga rumah mahal”.

Ada tiga persoalan yang saling berkaitan: harga rumah, pertumbuhan pendapatan, dan lokasi pekerjaan.

Rumah yang murah tetapi terlalu jauh dari tempat kerja dapat menimbulkan biaya transportasi dan waktu perjalanan yang besar. Sebaliknya, rumah yang dekat dengan pusat pekerjaan biasanya memiliki harga lebih tinggi.

Karena itu, solusi perumahan generasi muda Tangerang membutuhkan kolaborasi pemerintah, pengembang, perbankan dan masyarakat.

Banten Report mencatat, tantangan terbesar generasi muda bukan hanya bagaimana membeli rumah, tetapi bagaimana membangun kemampuan finansial agar rumah pertama tidak menjadi beban seumur hidup.

Pertanyaannya sekarang: lebih baik membeli rumah kecil lebih awal, atau menunggu sampai mampu membeli rumah yang lebih besar? [sms]

Related posts

BANDARA SOEKARNO-HATTA: KEMBALI BEROPERASI PASCA ERUPSI ANAK KRAKATAU

Syam

Musim Kemarau Berdampak pada Kualitas Air, Perumda Tirta Benteng Sampaikan Pengumuman kepada Pelanggan

dennyariyantoo@gmail.com

BAZNAS Banten Gagas Optimalisasi ZIS dan CSR/TJSL di Kawasan Bandara Soekarno-Hatta

denny ariyanto

Leave a Comment