Artikel

Media Asing Soroti Tantangan “Prabowonomics”, dari Rupiah hingga Kepercayaan Pasar

BANTEN REPORT – Perkembangan kebijakan ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perhatian media internasional. Sejumlah pemberitaan dan analisis dari media asing membahas arah “Prabowonomics”, terutama terkait kebijakan fiskal, nilai tukar rupiah, stabilitas pasar, serta kepercayaan investor.

Salah satu isu yang beredar di media sosial merujuk pada artikel The Australian berjudul “How Prabowonomics’ Spell Was Broken”. Unggahan lain juga mengaitkan perkembangan ekonomi Indonesia dengan pemberitaan media Belanda De Volkskrant. Namun, judul maupun narasi yang beredar di media sosial perlu dibaca dalam konteks pemberitaan aslinya dan tidak serta-merta dianggap sebagai kesimpulan bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami kegagalan.

Rupiah dan kepercayaan investor menjadi perhatian

Tekanan terhadap rupiah memang menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar. Pada pertengahan 2026, sejumlah analisis ekonomi internasional menyoroti pelemahan rupiah serta kebutuhan pemerintah menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter. The Australian pada Juli juga memberitakan tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya kekhawatiran investor.

East Asia Forum sebelumnya mencatat rupiah sempat mencapai sekitar Rp18.190 per dolar AS pada Juni 2026, sehingga Bank Indonesia melakukan intervensi untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar.

Pergantian Menteri Keuangan kembali menjadi sorotan

Perkembangan terbaru memperkuat perhatian terhadap arah kebijakan ekonomi. Pada September 2026, Presiden Prabowo mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan. Reuters melaporkan pergantian tersebut berlangsung ketika pemerintah menghadapi kekhawatiran mengenai kredibilitas fiskal, pelemahan rupiah dan kepercayaan investor.

Suahasil menyatakan komitmennya menjaga disiplin fiskal, termasuk mempertahankan defisit APBN di bawah batas 3 persen terhadap PDB. Ia juga menghadapi tantangan untuk mendukung agenda ekonomi pemerintahan sekaligus mempertahankan kredibilitas anggaran.

“Prabowonomics” bukan hanya soal pelemahan rupiah

Istilah Prabowonomics digunakan untuk menggambarkan pendekatan ekonomi pemerintahan Prabowo yang menekankan pertumbuhan, kemandirian ekonomi, program sosial, industrialisasi dan penguatan peran negara dalam perekonomian.

Karena itu, perdebatan mengenai Prabowonomics tidak dapat hanya dilihat dari satu indikator seperti nilai tukar. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit APBN, investasi, daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja, produktivitas serta keberlanjutan fiskal juga menjadi bagian penting dalam menilai perkembangan ekonomi.

Reuters mencatat bahwa masa jabatan Purbaya memang diwarnai pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, tetapi juga pelebaran defisit anggaran dan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan. Pasar menunggu konsistensi kebijakan

Pergantian Menteri Keuangan dan perubahan sejumlah kebijakan ekonomi menunjukkan bahwa konsistensi dan komunikasi kebijakan menjadi faktor penting bagi pasar.

Sejumlah analis yang dikutip Reuters menilai penunjukan Suahasil dapat membantu memberikan kepastian lebih besar mengenai kebijakan fiskal. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada bagaimana pemerintah menyeimbangkan target pertumbuhan dengan disiplin anggaran.

Dengan demikian, narasi “Prabowonomics’ Spell Was Broken” yang beredar di media sosial sebaiknya dipahami sebagai bagian dari perdebatan dan analisis media internasional mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia, bukan sebagai satu-satunya ukuran kondisi perekonomian nasional.(Adv)

Related posts

Sembilan Kegelisahan Kapolri: Dari Keluhan Publik Menuju Reformasi Pelayanan Polisi

Syam

Rezeki Itu Sudah Pasti, Surga Itu Belum Tentu

Syam

Rocky Gerung Masuk Istana: Membawa Kritik ke Dalam Kekuasaan atau Menjadi Bagian dari Kekuasaan?

Syam

Leave a Comment